Mengawati Sukarno Putri Akhirnya Jomblo ?!

Mengawati Sukarno Putri Akhirnya Jomblo ?!. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, berpandangan, komunikasi politik yang dilakukan Partai Demokrat (PD) dengan PDIP membuka peluang terjadinya konstelasi politik baru.

Menurut Burhanuddin, setidaknya ada dua alasan yang bisa di kedepankan PDIP untuk membuka kemungkinan koalisi dengan PD dan mengusung duet SBY-Megawati.

Alasan pertama mencakup rasionalitas pemilu yang menyimpulkan PDIP tak ingin memaksakan diri memajukan capres sendiri kalau potensi untuk menangnya sangat kecil.

“Dalam konteks ini, PDIP bisa saja memilih berkoalisi dengan Demokrat dengan konsekuensi mendapat insentif kue kekuasaan,” kata Burhanuddin dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Ahad (10/5).

Sikap rasionalistis PDIP, lanjut Burhanuddin, didasari sangat mahalnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai parpol. Pengalaman PDIP menjadi oposisi selama lima tahun terakhir, nampaknya memperkuat rasionalitas PDIP. “PDIP sadar, sulit membesarkan partai tanpa dekat dengan kekuasaan.”

Adapun alasa kedua, kata Burhanuddin, yaitu keinginan PDIP membalas dua kali manuver Partai Golkar (PG) yang merendahkan martabat PDIP. Pada pemilu 2004 silam, PDIP ditinggalkan PG setelah si pohon beringin memutuskan untuk berkoalisi dengan PD dan SBY. Eksesnya, PDIP berdiri sendirian di kubu oposisi.

Manuver kedua PG yang tiba-tiba mendeklarasikan JK-Wiranto di tengah upaya membangun koalisi besar bersama PDIP, Gerindra, dan PPP, tak kalah membuat PDIP sakit hati.

PDIP yang tak diajak bicara rencana pendeklarasin JK-Wiranto merasa dikhianati dua kali oleh PG. Selain itu, deklarasi JK-Wiranto juga mempertipis peluang Megawati mendapat tiket maju sebagai capres. Apalagi sejauh ini Gerindra tampak tak ingin menurunkan tawarannya untuk menjadikan Prabowo sebagai capres.

“Dengan hanya menyisakan Gerindra yang tidak menurunkan //call//-nya mencapreskan Prabowo, Megawati dihadapkan pada pilihan simalakama. Maju bersama Prabowo sebagai cawapres atau terancam jomblo,” papar Burhanuddin.

Kecuali itu, PDIP bisa saja memilih langkah praktis berkoalisi dengan PD dengan harapan mendapat konsesi politik berupa kursi di kekuasaan yang lebih besar.

“Memang risikonya adalah PDIP akan kehilangan kepercayaan dari pemilihnya, karena mereka yang memilih PDIP ingin PDIP mengajukan capres sendiri,” tandas Burhanuddin. – ade/ahi

[ sumber :  http://www.republika.co.id/berita/49539/Dua_Alasan_Mega_Mau_Berduet_dengan_SBY ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: